Penulis: Ria Putri S.P., M.Si., Prof. Dr. Ir. Soesiladi Esti Widodo, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M.Sc.

RESPONS FISIOLOGI TANAMAN KACANG TUNGGAK TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

BLURB :
Kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) atau cowpea adalah tanaman legum yang berasal dari Afrika dan kini tersebar luas. Kacang tunggak memiliki kandungan protein tinggi (23-33%), asam amino esensial (lisin dan triptofan), serta vitamin dan mineral penting seperti kalsium dan zat besi (Afonso et al., 2025). Kacang tunggak memiliki kandungan protein sebesar 22,90%, sementara kedelai mencapai 34,90% dan kacang hijau 22,20%. Hal ini menunjukkan bahwa kacang tunggak menempati posisi sebagai sumber protein tertinggi kedua setelah kedelai.

Potensi hasil biji kacang tunggak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, seperti pembuatan tempe kacang tunggak dan kue berprotein. Salah satu keunggulan kacang tunggak ialah kandungan lemaknya yang lebih rendah dibandingkan kedelai, sehingga dapat membantu mengurangi dampak negatif dari konsumsi produk pangan tinggi lemak.

Selain fungsi sebagai bahan pangan, kacang tunggak juga memiliki manfaat ekologis. Tanaman ini bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang mampu melakukan fiksasi nitrogen, sehingga dapat memperbaiki kesuburan tanah. Dengan demikian, budidaya kacang tunggak tidak hanya memberikan hasil panen yang bernilai gizi tinggi, tetapi juga mendukung keberlanjutan sistem pertanian. Karena daya adaptasinya yang tinggi, kacang tunggak sering dijuluki sebagai tanaman “serbaguna” atau miracle crop, yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan curah hujan terbatas

Meskipun dikenal adaptif, kacang tunggak tetap rentan terhadap cekaman kekeringan, terutama pada fase pertumbuhan tertentu. Dampak kekeringan pada fase vegetatif dapat menghambat pertumbuhan awal tanaman, mengurangi pembentukan nodul akar, serta mengganggu proses fiksasi nitrogen, yang pada akhirnya menurunkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Pada fase generatif, kekeringan dapat menurunkan jumlah polong, biji per polong, serta bobot biji, sehingga berdampak langsung pada hasil panen.

Selain menurunkan hasil, cekaman kekeringan juga mempengaruhi kualitas biji. Studi menunjukkan bahwa kacang tunggak yang mengalami stres air akan menghasilkan biji dengan ukuran lebih kecil, penurunan kandungan protein, dan berkurangnya viabilitas benih untuk ditanam kembali. Permasalahan ini semakin diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian iklim yang membuat periode kering sulit diprediksi. Dengan demikian, kajian mendalam tentang respons kacang tunggak terhadap cekaman kekeringan menjadi sangat penting dalam mendukung produktivitas di lahan kering.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *