METAFORA SANG PRIMADONA
Penulis: Dedi Sutisna
Aku mengangkat dagumu, menatap dalam manik mata itu. “Lihatlah … Di sana ada seluruh galaksi yang berputar. Aku bisa tenggelam di sana selama ribuan tahun dan tidak akan pernah ingin naik ke permukaan. Biarkan aku hanyut, biarkan aku hilang, karena di situlah tempat terindah yang pernah ada!”
Kau memejamkan mata, menikmati momen. “Mas ini ya … bikin aku merasa jadi wanita paling spesial sedunia.”
“Kau memang spesial!” sergahku tegas. “Kau adalah mahakarya yang dipatenkan oleh Tuhan! Tidak ada duanya, tidak ada tiruannya. Kalau ada kontes kecantikan di seluruh alam semesta, juaranya pasti kamu, dan yang kedua nggak ada! Karena nggak ada yang sanggup menandingi!”
Aku mengecup keningmu lama sekali. Aromamu masuk ke paru-paru, menjadi oksigen yang membuatku hidup. Cintaku padamu saat ini bukan lagi sekadar api yang membara. Ia sudah berubah menjadi matahari yang stabil, yang menerangi, yang menghangatkan, dan yang menjadi pusat dari seluruh tata surya hidupku.
“Primadonaku!” Bisikku di telingamu. “Terima kasih ya!”
“Untuk apa?” Tanyamu dengan nada yang manja.
“Untuk hadir di dunia ini. Untuk menjadi puisi yang membuat hidupku berarti. Dan untuk menjadi cinta yang membuktikan bahwa metafora terindah itu nyata adanya, bukan sekadar imajinasi penyair gila.”
Kita pun terdiam lagi. Malam semakin larut, bintang semakin terang. Tapi bagiku, cahaya terang di jagat raya ini bukanlah bintang, melainkan kilauan di matamu, dan hangatnya senyummu. Kau adalah segala warna. Kau adalah segala nada. Kau adalah segala rasa.Wahai Sang Primadona …
Kau adalah definisi dari cinta itu sendiri.

